Tuesday, February 3, 2015

Atheisme, secara psikologis tidak memungkinkan untuk ada

Itu berdasarkan kesimpulan pada bagaimana cara manusia berpikir. Kesimpulan ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat manusia terlahir sebagai believers, bukan sebagai atheist.
Sejak lahir manusia belum mengenal tuhan. Yang dikenal mereka hanya orang yang mengasuhnya dan mereka percaya pada pengasuhnya itu. Believing. Ini percaya kepada real friends. Nanti dalam perkembangannya akan muncul imaginary friends pada anak2 yang dididik secara relijius.

Manusia terlahir berdasarkan pola turunan seperti percaya pada karma atau cosmic justice yang muncul secara default. Manusia hanya mencoba menilai kembali idea relijius mereka, dan memproklamirkan diri sebagai kelompok yang berbeda, yaitu kelompok atheis.
Jadi, atheism itu hanya pemberian gelar kepada kelompok yang berbeda idea relijiusnya. Perbedaan itu indah. Justru kalau kita menghakimi orang2 yang berbeda idea dengan kita malah menunjukkan bahwa kita adalah orang2 yang close minded.
Lanjutkan baca di sini.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.