
Sejak kecil kita sudah terbiasa dengan berasumsi. Pada waktu kita masih bayi, dan kemudian merangkak mendekati sumber cahaya yang menari2 dan berwarna menyejukkan, dimana kita kemudian mengenalnya dengan nama "lilin", kita baru tahu bahwa nyala api itu panas setelah kita mencoba memegang api yang menari2 itu.
Setelah beranjak dewasa, pengalaman masa kecil itu terus terbawa. Setiap melihat nyala api lilin kita selalu berasumsi bahwa api lilin itu panas. Karena setiap kita buktikan panas api lilin itu memang benar2 terbukti, maka kita menyimpulkan bahwa api lilin itu panas. Asumsi yang dibuktikan dengan realitas ini akan menjadi "proven assumption" yang kemudian kita generalisasikan berlaku untuk semua lilin dan benda2 yang berapi.




