Sumber: http://www.the-open-mind.com/9-things-you-realize-after-you-die/
Apa yang tercantum pada link tersebut di atas adalah fiksi. Kisah dari seseorang yang mendapatkan kabar dari saudaranya yang sudah meninggal.
Anda boleh percaya fiksi itu atau tidak, tetapi ada butir2 falsafah hidup yang bisa diambil dari kisah itu, diantaranya adalah:
Apapun yang anda alami dalam kehidupan ini, bukanlah karma atas kehidupan di masa lalu. Coba hilangkan pencarian kambing hitam atas apa yang terjadi dalam hidup anda. Semua yang anda butuhkan sebetulnya sudah tersedia dalam diri anda.
Jika setiap hari selama minimal 1 jam kita meningkatkan aktivitas otak dengan cara berpikir inovatif atau merasakan stimuli dari pengalaman2 yang baru, kita bisa menjadi lebih cerdas, lebih enerjik, lebih kreatif, lebih mampu bersosialisasi, dan lebih mampu menerima berbagai pengalaman2 baru termasuk menikmati perubahan cara berpikir kita.
Kuncinya adalah selalu terbuka untuk setiap pengalaman baru dan siap untuk mengubah pola pikir lama jika diperlukan.
A bercerita, "Eikeh kemarin lihat kucing bisa terbang".
B menjawab, "Ngga mungkin, itu ngga logis."
A bertanya, "Kenapa you mengatakan itu ngga logis?
B: menjawab, "karena selama ini Ana tidak pernah lihat ada kucing bisa terbang. Selain itu kucing tidak punya sayap jadi tidak mungkin bisa terbang. Antum lagi mabuk kali ya...."
Kita lihat di sini argumen si B. Argumennya ada dua, yang pertama adalah "selama ini Ana tidak pernah lihat ada kucing bisa terbang", sebut sebagai Arg1. Yang kedua adalah "kucing tidak punya sayap jadi tidak mungkin bisa terbang", sebut saja dengan Arg2.
Bahasan argumen pertama (Arg1):
Jika B selama ini tidak pernah melihat sesuatu fenomena aneh, apakah fakta itu bisa dijadikan generalisasi bahwa SEMUA orang juga tidak pernah melihat fenomena yang sama? Jika ya, maka ini masuk dalam fallacy yang bernama Falsus in Uno, Falsus in Omnibus - False in one, False in All.
Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa penilaian yang obyektif itu adalah penilaian yang paling baik karena ditunjang oleh fakta2 empiris.
Contohnya, ada yang membuat pernyataan bahwa "sebagian besar rakyat Indonesia lebih menyukai makan nasi daripada makan bakmie". Ini bisa dibuktikan secara empiris baik dengan pengamatan atau survey bahwa di mana2 (secara totalitas) lebih banyak orang2 Indonesia yang makan nasi.
Meskipun demikian, benarkah yang disebut penilaian yang obyektif itu memiliki probabiltas untuk selalu lebih benar dibandingkan dengan penilaian yang subyektif?
Kontemplasi itu berasal dari bahasa Latin Contemplatio, yang artinya mengamati dan berpikir lebih mendalam.
Ada sebagian orang yang melakukan kontemplasi di tempat2 yang sepi seperti misalnya di pinggir hutan, di pinggir sungai, di lereng gunung atau di puncak gunung.
Biasanya, pada saat kontemplasi itu mereka akan mendapatkan sebuah pemikiran atau idea yang baru, yang berasal dari sintesa berbagai data dalam memorinya. Sebuah idea baru hanya bisa muncul jika ada data pendukung yang sudah ada di memori. Sebagai contoh, seorang perancang microprocessor bisa mendapatkan idea untuk merancang microprocessor yang lebih canggih seperti misalnya microprocessor berbasis protein, itu hanya bisa terjadi jika si perancang itu sudah memiliki data tentang rancangan sebuah microprocessor di dalam memorinya.
Beberapa hari yang lalu ada teman yang bercerita bahwa dia punya masalah yang tidak perlu diceritakan di sini, sebut saja masalahnya adalah A. Dia mengeluh bahwa selama ini hidupnya baik2 saja tetapi kenapa bisa mendapatkan masalah A itu. Dia protes kepada orang2 dekatnya (keluarga dan orang tua) dan kemudian dia mencoba menghalalkan segala cara agar masalah itu bisa diatasi.
Saya kemudian memberikan saran kepadanya:
- Anda mengambil referensi yang keliru. Yang anda lihat adalah bagian2 yang terbaik dari orang lain. Padahal kalau anda tahu apa bagian2 buruk dari mereka dan apa saja masalah mereka, mungkin anda akan bersyukur 1000 kali tidak mendapatkan musibah seperti mereka. Coba amati juga orang2 yang berada pada level ekonomi atau intelejensia di bawah level anda. Nanti anda akan tahu berbagai macam masalah dalam kehidupan ini dan tidak hanya sebatas masalah2 anda sendiri.

Vitriol adalah akronim dari Visita Interiora Terrae Rectificando Invenies Occultum Lapidem (Visit the Innermost of the Earth and by Rectifying you will find the Hidden Stone). Carilah sampai ke dalam bumi, dengan perkuatan tertentu anda akan menemukan batu tersembunyi itu.
Ini adalah motto dari kaum Alchemist, sekumpulan orang yang berusaha untuk mengubah materi biasa menjadi emas/perak, dan mengembangkan elixir of life. Motto ini berkaitan dengan Christian Rosenkreuz, pendiri dari Rosicrucian Order (Order of the Rose Cross). Christian sendiri adalah seorang doktor yang mempelajari dan menemukan berbagai kebijakan esoteris dalam pendakian spiritual di lingkungan para master dari Turki, Arab dan Persia, konon juga meliputi para sufi dan Zoroastrian master. Christian membuat sebuah kuil yang bernama Sanctus Spiritus (The House of the Holy Spirit).
Perjalanan orang2 semacam Christian ini sarat dengan hal2 yang berbau occultism dan supranatural. Mirip2 dengan dongeng Harry Potter.
Hal semacam itu meninggalkan dua pertanyaan bagi kita:
- Apakah mereka itu terlalu bodoh sehingga mencari dan mempercayai hal2 yang berbau accultism dan supranatural dan menjalankannya sampai beratus2 tahun?
- Ataukah kita yang terlalu bodoh sehingga tidak pernah bisa tahu apa yang diperoleh dan dialami oleh golongan mereka itu?
Ingatkah anda dengan Isaac Newton? Dia adalah The World's Most Famous Alchemist.